Profile of BCR-ABL transcript levels based on Sokal prognostic score in chronic myeloid leukemia patients treated with imatinib

Tujuan: mengevaluasi pola dari respons molekular yang dinilai dengan reduksi kadar transkrip BCR-ABL berdasarkan skor prognosis sokal pada pasien leukemia mieloid kronis (LMK) fase kronis yang mendapat terapi Imatinib. Metode: penelitian dengan desain potong lintang dilakukan di Instalasi Rawat Jala...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Ami Ashariati Prayoga, Siprianus Ugroseno Yudho Bintoro
Format: Article PeerReviewed
Language:English
English
English
Published: The Indonesian Society of Internal medicine 2014
Subjects:
Online Access:http://repository.unair.ac.id/96200/1/Profil%20of%20BCR-ABL%20transcript.pdf
http://repository.unair.ac.id/96200/2/Profil%20of%20BCR-ABL.pdf
http://repository.unair.ac.id/96200/3/Profile%20of%20BCR-ABL%20transcript%20levels%20based%20on%20Sokal%20prognostic%20score%20in%20chronic%20myeloid%20leukemia%20patients%20treated%20with%20imatinib.pdf
http://repository.unair.ac.id/96200/
http://www.inaactamedica.org/archives/2013/23770790.pdf
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Institution: Universitas Airlangga
Language: English
English
English
Description
Summary:Tujuan: mengevaluasi pola dari respons molekular yang dinilai dengan reduksi kadar transkrip BCR-ABL berdasarkan skor prognosis sokal pada pasien leukemia mieloid kronis (LMK) fase kronis yang mendapat terapi Imatinib. Metode: penelitian dengan desain potong lintang dilakukan di Instalasi Rawat Jalan Hematologi, RSU Dr. Soetomo Surabaya, pada semua pasien LMK fase kronis, sejak Juni 2008 hingga Juni 2012. Skoring Sokal ditentukan saat sebelum terapi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek (usia, jenis kelamin), kadar hemoglobin, trombosit, lekosit, sel muda mieloblas, dan ukuran limpa. Pemeriksaan real-time kuantatif PCR (RT-qPCR) digunakan untuk mendeteksi residual molekular respons dari BCR-ABL. Hasil RT-qPCR yang dicatat merupakan rasio dari BCR-ABL dan gen acuan (G6PDH) sebagai standar internal. Perbedaan proporsi respons molekuler lengkap pada kelompok risiko Sokal rendah dan tinggi dianalisis dengan uji kai kuadrat, sementara perbedaan kadar transkrip BCR-ABL di antara kelompok risiko Sokal dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil: 40 subjek menyelesaikan penelitian. Setelah 18 bulan terapi Imatinib, kadar transkrip BCR-ABL tidak terdeteksi (molekuler respons lengkap) pada 7(70%), 8(66,7%), dan 9(50%) berturut-turut pada kelompok subjek risiko Sokal rendah-, sedang-, dan tinggi (p=0,417). Respons molekuler lengkap pada kelompok risiko Sokal rendah didapatkan lebih tinggi dibanding risiko Sokal tinggi (70% vs 50%), secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,557). Analisis statistik menggunakan Kruskall-Wallis menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna distribusi kadar transkrip BCR-ABL di antara subkelompok skor prognostik Sokal (p=0,734). Kesimpulan: tidak ada perbedaan kadar transkrip BCR-ABL antara subkelompok skor prognostik sokal pada pasien LMK fase kronik yang diterapi dengan imatinib.